MAYORITAS penduduk Indonesia petani dan lahan pertanian membentang luas di negeri ini, tapi hingga kini impor pangan terus berlangsung. Salah satu masalah terbesar sektor pertanian ialah ketergantungan petani pada pengusaha dan pemerintah. Ketersediaan dan harga benih dan hasil panen menjadi pusaran masalah yang menjebak petani, belum lagi gempuran produk impor.
Sebagai anak seorang petani, Muhammad Farid Ma'ruf, yang merupakan sarjana akuntansi lulusan STIE Widya Wiwaha, Yogyakarta, menemukan masalah yang membelit keluarga dan warga desanya itu ketika secara terpaksa ia turun ke sawah. Ia lalu menawarkan solusi, yakni pertanian organik.
Saat pulang kampung ke Desa Ngagel, Kabupaten Pati, Jawa Tengah, Farid menjadikan kegiatan bertani sebagai pengisi waktu saat menganggur seusai lulus kuliah pada 1999. Namun, ia kemudian menemukan serentetan masalah. Harga pupuk mahal, lahan mulai tidak subur hingga anjloknya harga komoditas pertanian.
Berbekal sepetak lahan sawah milik orang tuanya, Farid mencoba bereksperimen. Ia mencari terobosan baru di bidang pertanian, membudidayakan tanaman padi organik.
Langkah itu tidaklah mudah sebagaimana dibayangkannya. Keterbatasan pengetahuan pertanian serta kultur petani di daerahnya yang sangat bergantung pada pupuk kimia membuat langkahnya tidak mudah.
Padahal, di saat yang sama, tingkat kesuburan sawah juga makin menurun.
Terbentur kultur
Pria lajang kelahiran 4 Juli 1977 ini mantap beralih ke pertanian organik pada 2001. Namun, langkah Farid tidak mudah, ia berhadapan dengan alam yang telah lunglai dan kultur yang tidak bersahabat.
Ia lalu menimba ilmu pertanian pada para ahli. Berawal dari lahan kurang dari 1 hektare, ia memperkenalkan pertanian organik. Pendekatan kembali ke alam itu dilakukannya mulai dari aktivitas pengolahan lahan, pencarian benih hingga pemupukan yang mengandalkan kotoran serta air seni hewan.
Cibiran dan ejekan dari para petani lain bermunculan karena langkahnya tentu tak populer. Jika sejak beberapa tahun terakhir petani lokal mulai mengandalkan traktor untuk mengolah lahan, Farid memilih kembali mencangkul.
Alasannya, mencangkul dapat membalikkan tanah hingga membunuh hama sekaligus mengembalikan hara. "Traktor hanya mencongkel dan tidak membalikkan tanah," kata Farid.
Ketika petani lain mulai antre di distributor ataupun koperasi unit desa (KUD) untuk membeli pupuk urea, Farid malah keluar masuk peternakan warga. Ia membeli kotoran sapi ataupun kambing untuk pemupukan sawahnya seharga Rp100 ribu per kendaraan pikap. Untuk benih, ia memilih melakukan pembenihan tersendiri.
"Hari gini masih menggunakan pupuk kandang." Ejekan itu bergema di telinga Farid setiap berpapasan dengan petani lain. Namun, bagi Farid yang banyak menimba ilmu dari petani kaum Samin di Sukolilo, Pati, ejekan itu menjadi sumber motivasi.
Bukti panen
Hasil panen Farid kemudian menjadi bukti telak. Berat gabah yang dipanennya melampaui angka rata-rata.
"Pertanian organik lebih menguntungkan, karena selain menjaga kesuburan tanah juga secara perhitungan lebih murah," kata Farid.
Selanjutnya, ketika para petani mulai melirik, Farid melakukan langkah kompromis. Agar petani yang sudah terbiasa dengan sistem pertanian kimia mau bersentuhan dengan teknik organik, Farid Ma'ruf mengupayakan jalan tengah. Ia memperkenalkan pengolahan lahan semiorganik, mengurangi ketergantungan penggunaan pupuk kimia.
Jika biasanya 250 kilogram pupuk urea digunakan untuk 1 hektare, kini dikurangi menjadi 150 kilogram. Selebihnya, menggunakan pupuk dari air seni sapi.
Terobosan itu ternyata membuahkan hasil, secara berangsur-angsur petani mulai meninggalkan bahan kimia. Terlebih, teknik semiorganik itu hasilnya juga cukup menggembirakan, panen gabah yang diperoleh 10 ton per hektare.
Kini setelah petani sepenuhnya hijrah ke sistem organik, panen kian berlimpah hingga 11,3 ton per hektare, jauh melampaui perolehan dengan sistem konvensional yang rata-rata 6-7 ton, Farid lalu menggagas kelompok tani Omah Tani dan Serikat Petani Pati untuk mengampanyekan tanaman padi organik. Farid berupaya mendorong petani untuk mau belajar, targetnya jelas, kesejahteraan.
"Petani pada umumnya tidak kreatif karena keterbatasan pendidikan dan pengetahuan, mereka baru mengikuti jika sudah ada contoh yang berhasil, maka saya memulai memberikan langkah itu," kata Farid.
Untuk mengusir hama, kata Farid, jika biasanya petani menggunakan pestisida, ia menggunakan bawang dan empon-empon. Bahkan, hama seperti wereng dibasmi dengan menggunakan predator alami, laba-laba. Hasilnya ternyata cukup ampuh.
Kini gelombang sistem organik kian kencang, makin banyak petani yang penasaran dan belajar. Sedikitnya 20 hektare pertanian organik dan 200 hektare lahan semiorganik tersebar di Pati. (M-2) - Media Indonesia
Biodata
Nama: Muhammad Farid Ma'ruf
Tanggal lahir: 4 Juli 1977
Pendidikan: Jurusan Akuntansi STIE Widya Wiwaha, Yogyakarta
Pencapaian: Mendirikan Kelompok Tani Omah Tani dan Serikat Petani Pati
Minggu, 26 Februari 2012
Tidak Aneh Bila SBY Disebut Bebek Lumpuh oleh Media Asing
Tidak ada yang aneh dengan penilaian majalahThe Economistyang menyebut Presiden SBY seperti bebek lumpuh. Sebab faktanya, memang pemerintahan SBY-Boediono sudah tidak efektif lagi.
Demikian disampaikan pengamat kebijakan publik, Ichsanuddin Noorsy, kepada Rakyat Merdeka Online beberapa saat lalu (Senin, 27/2).
Namun Icshanuddin mengatakan dirinya memiliki cara pandang yang berbeda dengan motif di balik penyebutan oleh majalah ekonomi terkemuka di dunia itu. Secara faktual, kata Noorsy, pemerintahan SBY memang lemah. Namun Noorsy mengingatkan agar jeli saat membaca dan menafsirkan The Economist sebab majalah tersebut memiliki tujuan yang berbeda saat menyebut SBY seperti bebek lumpuh.
Ichsanuddin menilai penyebutanThe Economist itu sangat terkait erat dengan kebijakan pemerintah SBY yang mau menaikkan harga bahan bakan minyak (BBM).
"Sebab dunia internasional, terutama pihak asing, menghendaki agar SBY itu menaikkan harga BBM sejak 2010. Namun ternyata SBY lambat dan baru menaikkan BBM tahun ini. Makanya mereka menyebut SBY seperti bebek lemah," tegas Noorsy.
Namun di sisi lain, Noorsy sepakat dengan The Economist yang menyarankan SBY untuk menindak orang-orang yang memperlemah otoritasnya di kalangan Demokrat. Sebab selama ini juga, SBY lebih sibuk mengurus politisi Demokrat dibanding mengurus kepentingan rakyat.
"Dalam kasus Angelina, SBY langsung bicara. Namun dalam kasus Mesuji dan Bima, SBY diam padahal menyangkut kepentingan rakyat yang berlawanan dengan korporasi," demikian Noorsy. [ysa]/RMOL
Demikian disampaikan pengamat kebijakan publik, Ichsanuddin Noorsy, kepada Rakyat Merdeka Online beberapa saat lalu (Senin, 27/2).
Namun Icshanuddin mengatakan dirinya memiliki cara pandang yang berbeda dengan motif di balik penyebutan oleh majalah ekonomi terkemuka di dunia itu. Secara faktual, kata Noorsy, pemerintahan SBY memang lemah. Namun Noorsy mengingatkan agar jeli saat membaca dan menafsirkan The Economist sebab majalah tersebut memiliki tujuan yang berbeda saat menyebut SBY seperti bebek lumpuh.
Ichsanuddin menilai penyebutanThe Economist itu sangat terkait erat dengan kebijakan pemerintah SBY yang mau menaikkan harga bahan bakan minyak (BBM).
"Sebab dunia internasional, terutama pihak asing, menghendaki agar SBY itu menaikkan harga BBM sejak 2010. Namun ternyata SBY lambat dan baru menaikkan BBM tahun ini. Makanya mereka menyebut SBY seperti bebek lemah," tegas Noorsy.
Namun di sisi lain, Noorsy sepakat dengan The Economist yang menyarankan SBY untuk menindak orang-orang yang memperlemah otoritasnya di kalangan Demokrat. Sebab selama ini juga, SBY lebih sibuk mengurus politisi Demokrat dibanding mengurus kepentingan rakyat.
"Dalam kasus Angelina, SBY langsung bicara. Namun dalam kasus Mesuji dan Bima, SBY diam padahal menyangkut kepentingan rakyat yang berlawanan dengan korporasi," demikian Noorsy. [ysa]/RMOL
Makanan yang Membuat Anda Tetap Terhidrasi
JIKA Anda merasa tersiksa jika harus mengkonsumsi delapan gelas air putih sehari, dalam penelitian yang dikutip dari Times Health, ada beberapa alternatif makanan yang dapat membantu Anda tetap terhidrasi.
1. Pilih ragam buah yang mengandung banyak air. Pilihan buah dengan kandungan air yang melimpah mampu memberikan kontribusi air di dalam tubuh. Anda dapat memilih semangka, jeruk, kiwi, kelapa, apel, dan semua jenis beri termasuk stroberi.
2. Sayuran hijau segar menyediakan nutrisi yang membantu tubuh agar tidak kekurangan cairan dan pastinya juga menyehatkan. Untuk mendapatkan manfaat berlebih, Anda dapat memilih jenis sayuran yang cocok dijadikan sebagai menu salad. Dengan begitu kandungan vitaminnya tidak akan berkurang. Namun jika Anda ingin memasaknya, sebaiknya dalam pengolahan diperhatikan dengan seksama.
3. Alternatif selanjutnya adalah sup atau kaldu. Anda dapat mengkreasikan sup yang menggugah selera, seperti sup jamur, sup ayam, atau lebih baik sup sayuran.-Media Indonesia
1. Pilih ragam buah yang mengandung banyak air. Pilihan buah dengan kandungan air yang melimpah mampu memberikan kontribusi air di dalam tubuh. Anda dapat memilih semangka, jeruk, kiwi, kelapa, apel, dan semua jenis beri termasuk stroberi.
2. Sayuran hijau segar menyediakan nutrisi yang membantu tubuh agar tidak kekurangan cairan dan pastinya juga menyehatkan. Untuk mendapatkan manfaat berlebih, Anda dapat memilih jenis sayuran yang cocok dijadikan sebagai menu salad. Dengan begitu kandungan vitaminnya tidak akan berkurang. Namun jika Anda ingin memasaknya, sebaiknya dalam pengolahan diperhatikan dengan seksama.
3. Alternatif selanjutnya adalah sup atau kaldu. Anda dapat mengkreasikan sup yang menggugah selera, seperti sup jamur, sup ayam, atau lebih baik sup sayuran.-Media Indonesia
VIDEO: Siaran Langsung Tabrakan Mobil
Satu kecelakaan tertangkap kamera saat seorang jurnalis tengah melaporkan siaran langsung, di Tampa, Florida. Kejadian langka ini berlangsung cepat, dua kendaraan beradu di tikungan persis di belakang reporter.
Seperti dilangsir Autoblog, Senin 27 Februari 2012, reporter wanita itu sedianya melaporkan kenaikan harga bahan bakar dari salah satu stasiun pengisian bensin di satu satu kota itu. Namun tak terduga kecelakaan terjadi di belakangnya.
Beberapa saat kemudian, pembawa berita di studio menanyakan kejadian itu. Reporter di lapangan yang awalnya belum tahu jadi menengok ke belakang. Benar saja, kecelakaan dua mobil terjadi sangat kencang.
Insiden aneh dan menarik seperti ini kadang terjadi di beberapa stasiun televisi lokal, di mana ketika wartawan memberikan laporan secara langsung, terjadi hal-hal yang tidak terduga. - Vivanews
Seperti dilangsir Autoblog, Senin 27 Februari 2012, reporter wanita itu sedianya melaporkan kenaikan harga bahan bakar dari salah satu stasiun pengisian bensin di satu satu kota itu. Namun tak terduga kecelakaan terjadi di belakangnya.
Beberapa saat kemudian, pembawa berita di studio menanyakan kejadian itu. Reporter di lapangan yang awalnya belum tahu jadi menengok ke belakang. Benar saja, kecelakaan dua mobil terjadi sangat kencang.
Insiden aneh dan menarik seperti ini kadang terjadi di beberapa stasiun televisi lokal, di mana ketika wartawan memberikan laporan secara langsung, terjadi hal-hal yang tidak terduga. - Vivanews
Catatan Wacana Kenaikan Harga BBM
Dr Arif Budimanta
KENAIKAN harga minyak dunia pasti berimplikasi serta berkonsekuensi terhadap penerimaan dan pengeluaran negara. Dengan demikian, setiap momentum kenaikan harga tidak serta-merta dapat menjadi alasan pembenaran bagi pemerintah untuk menaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM).
Sesungguhnya subsidi juga yang menikmati adalah rakyat dengan menggunakan uang rakyat pula. Patut pula dicatat, BBM adalah komoditas yang bernilai politis sangat tinggi. Itu karena dapat menurunkan ataupun menaikkan citra pemerintah di mata rakyat.
Secara matematis, meningkatnya besaran subsidi energi, khususnya BBM akibat naiknya harga minyak dunia, seharusnya masih bisa ditanggulangi. Alasannya, pemerintah masih memiliki Sisa Hasil Penggunaan Anggaran (SILPA) tahun lalu sebesar Rp32,2 triliun.
SILPA itu bisa digunakan pemerintah untuk mengatasi persoalan dan implikasi kenaikan harga minyak mentah, yang berkonsekuensi pada Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).
Di luar hitungan matematis itu, pemerintah harus fair (adil) menjelaskan bahwa kenaikan harga minyak dunia tidak hanya mengakibatkan naiknya belanja pemerintah (khususnya beban subsidi). Lonjakan harga juga memberi "rejeki" berupa meningkatkan pendapatan dari minyak dan gas.
Seperti yang dipaparkan Tim Konsorsium Peneliti Perguruan Tinggi (UI-UGM-ITB), bahwa jika terjadi kenaikan harga minyak dunia rata-rata 10%, maka akan meningkatkan pendapatan migas sebesar Rp3,5 triliun.
Untuk mengatasi kemungkinan defisit anggaran, pemerintah dapat melakukan penghematan atas belanja barang, seperti seminar-seminar, perjalanan dinas, macam-macam sosialisasi dan sebagainya. Upaya itu bisa membuat pemerintah menghemat sampai dengan 25 persen dari anggaran pengeluaran semula.
Dari berbagai upaya penghematan yang bisa dan memungkinkan dilakukan pemerintah, maka ada sekitar Rp35 triliun anggaran yang kemudian bisa direalokasikan untuk anggaran pendidikan.
Satu catatan dan pesan penting, jangan sampai karena ketidakmampuan pemerintah dalam mengelola sumber daya nasional dan keuangan negara kemudian rakyat yang menjadi korban, menanggung beban salah kelola aset nasional.
* Dr Arif Budimanta, Anggota DPR dari Fraksi PDI Perjuangan
Sesungguhnya subsidi juga yang menikmati adalah rakyat dengan menggunakan uang rakyat pula. Patut pula dicatat, BBM adalah komoditas yang bernilai politis sangat tinggi. Itu karena dapat menurunkan ataupun menaikkan citra pemerintah di mata rakyat.
Secara matematis, meningkatnya besaran subsidi energi, khususnya BBM akibat naiknya harga minyak dunia, seharusnya masih bisa ditanggulangi. Alasannya, pemerintah masih memiliki Sisa Hasil Penggunaan Anggaran (SILPA) tahun lalu sebesar Rp32,2 triliun.
SILPA itu bisa digunakan pemerintah untuk mengatasi persoalan dan implikasi kenaikan harga minyak mentah, yang berkonsekuensi pada Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).
Di luar hitungan matematis itu, pemerintah harus fair (adil) menjelaskan bahwa kenaikan harga minyak dunia tidak hanya mengakibatkan naiknya belanja pemerintah (khususnya beban subsidi). Lonjakan harga juga memberi "rejeki" berupa meningkatkan pendapatan dari minyak dan gas.
Seperti yang dipaparkan Tim Konsorsium Peneliti Perguruan Tinggi (UI-UGM-ITB), bahwa jika terjadi kenaikan harga minyak dunia rata-rata 10%, maka akan meningkatkan pendapatan migas sebesar Rp3,5 triliun.
Untuk mengatasi kemungkinan defisit anggaran, pemerintah dapat melakukan penghematan atas belanja barang, seperti seminar-seminar, perjalanan dinas, macam-macam sosialisasi dan sebagainya. Upaya itu bisa membuat pemerintah menghemat sampai dengan 25 persen dari anggaran pengeluaran semula.
Dari berbagai upaya penghematan yang bisa dan memungkinkan dilakukan pemerintah, maka ada sekitar Rp35 triliun anggaran yang kemudian bisa direalokasikan untuk anggaran pendidikan.
Satu catatan dan pesan penting, jangan sampai karena ketidakmampuan pemerintah dalam mengelola sumber daya nasional dan keuangan negara kemudian rakyat yang menjadi korban, menanggung beban salah kelola aset nasional.
* Dr Arif Budimanta, Anggota DPR dari Fraksi PDI Perjuangan
Langganan:
Postingan (Atom)




